Saya, tidak Relevan.

Keragu-ragu an Manusia pada Agamanya, karna pada dasarnya, hidup seorang manusia dikaitkan dengan tujuan akhir. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan dari akhir hidupnya.
Doktrinisasi Renaissance.

Dan, Awal dari sebuah keretakan yang timbul adalah kemungkinan(bisa saja saya salah) Kehidupan agama telah sampai pada hubungan yang lebih bebas dengan penalaran.
Penekanan-penekanan bahwa kita tidak dapat sampai kepada Tuhan melalui rasionalisme, sebab Tuhan itu tidak dapat dikenali. Yang terpenting bagi manusia bukanlah memahami misteri ilahi, melainkan pasrah pada kehendak Tuhan.


**



Untuk dinyatakan dengan jelas, saya tidak mengingkari apa-apa yang berkaitan tentang ke Agamaan atau Aspek apapun tentang cara pandang tiap orang dalam meyakini sesuatu.
Saya Bersyahadat dan Meyakini Islam, tapi saya juga bukan Muslim yang taat. Karna mungkin saja dari kalimat saya pernah menyakiti hati seseorang atau dari perbuatan saya yang melanggar batas-batas sesuatu berdosa atau tidak. Saya mempercayai hal-hal yang diajarkan oleh agama saya, dan juga kita semua. Dan terlepas dari itu semua, saya meyakini kedua punggung saya dikawal oleh 2 malaikat yang mencatat Amal Baik dan Buruk saya. Daripada tentang mengkritisi seseorang beragama, saya lebih banyak setuju bahwa saya berdosa.
dan Ini selalu diulang oleh semua orang bijak; Agama adalah mengajarkan kebaikan, Agama apapun.

Saya mempercayai Islam adalah bukan tiket bagi seseorang Untuk dia boleh mengkafir-kafirkan oranglain dan tonggak kebenaran adalah pada dirinya atau orang-orang yang sepegangan pendapat tentangnya. Dan ketika kita berbicara tentang Agama, ada beberapa hal yang tidak bisa dikaitkan dengan nalar berlogika, banyak sekali. Menerima apa yang kita bayangkan itu memang benar, walaupun kita tidak bisa membuktikannya, saya rasa seperti itu definisi keyakinan bagi saya.
Isra Miraj adalah fakta bagi kita untuk meyakini Perjalanan Nabi Muhammad SAW yang dalam waktu satu malam, pergi dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsa yang berada di Palestina/ Yarusalem. Kemudian dilanjutkan menuju langit Sidratul Muntaha dengan tujuan menerima wahyu dari Allah SWT, yaitu Shalat 5 waktu.
Lanjutan dari kisah tersebut yang pasti semuanya sudah tahu, dan Sesampainya Nabi SAW dalam Perjalanan Isra Miraj, Nabi Muhammad saw menceritakan kepada umatnya tentang perjalanan yang beliau alami, dan sebagian besar dari mereka menganggap bahwa apa yang beliau ceritakan adalah tidak masuk Akal dan mendustakan hal tersebut. Dan Abu Bakar r.a adalah orang pertama yang membenarkan perjalanan Isra Mi'raj Nabi saw.
Abu Bakar r.a menjawab; sungguh Aku percaya apa yang dikatakan Muhammad bahwa adalah benar, bahkan jika didepanku ada tembok besar dan aku melihatnya berwarna Hitam tapi Muhammad menyebut tembok itu berwarna putih, Sungguh itu adalah kesalahan pada mataku melihat itu, dan yang diucapkan nabi Muhammad saw adalah benar.


Tapi mari bicara hal-hal yang lebih detail dan bukan abstrak seperti diatas, yang ketika kita mendengarnya. kita semua mungkin hanya bisa terdiam dan tidak menyanggahnya, bukan... ini Bukan ajakan untuk mencari Human error, atau mencari sebuah kesalahan agar kita bisa mendebatnya. Saya jauh lebih bodoh bahkan dari seekor cicak.

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran 
dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya. 
- Goethe.

Saya sungguh sangat terganggu oleh Kalimat yang ditulis Goethe, Johan Wolfgan Von Goethe.

Saya resah tentang Napoleon yang Jatuh dalam Penaklukan Waterloo, Kegilaan Hitler tentang Kekuasaan dan Nazi-nya, Atau tentang Rahwana yang Mencintai Sinta, Serangan Umum 1 Maret, Kematian Tan Malaka, Hancurnya Sutan Sjahrir, lalu Syarifudin Prawiranegara, Spekulasi tentang Gerakan 30 September, Kesediaan Hamka menjadi Imam Sholat Jenazah untuk Sukarno, Malari, Kerusuhan 1998, Kecewanya seorang Rudi Habibie, Kisah Socrates yang diceritakan Plato, dan Banyak lagi. Saya percaya 1 hal ketika mempelajari Sejarah, adalah untuk tidak membunuh sesama lagi.



Kalian tahu pusat permasalahan kita semua?
Yaitu kebenaran yang objektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita semua.
- Socrates.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar