Beri Kami Pijakan.

Beri kami rasa untuk saling menghormati hingga rambut kami putih nanti. Barisan yang percaya perubahan tidak perlu menunggu ksatria piningit atau apapun sebutannya itu.
Beri kami rasa saling menerima pandangan yang selalu berbeda. Mazhab. Beri kami rasa untuk tidak menggilai dan mencari-cari rasa hormat kelak. Beri kami kehausan untuk keras kepala penyoal benar. Beri kami untuk teguh berdiri pada nurani yang lurus. Beri kami rasa takut memegang amanah. Beri kami kesadaran bahwa apa yang digenggam adalah titipan. Dan, Beri kami kelapangan menerima tiap Masa yang Engkau beri, sesakit dan setidak sesuainya harapan.

Kami, yang berdiri bersebelahan. Yang saling menepuk pundak untuk mengingatkan. Dan tetap saling menjaga punggung disebelahnya walaupun akan datang ego yg akhirnya saling memunggungi. Kami masih tetap dan akan selalu bersaudara sejauh apapun ego(gunung) itu memisahkan.

Dalam tawa. Dalam setiap diskusi yang kami coba bedah dan memilih. Kami punya demokrasi kecil. Kebebasan.
Kami menjunjung tinggi suara memilih pelan, sepahit apapun melegalkannya. Ternyata Kami jadi belajar caranya berbalas perang kalimat. Perlahan ternyata kami belajar berpolitik dalam lingkup buih kecil. Ternyata disetiap kami duduk bersama, kami bertumbuh.

Sebuah rasa terimakasih. Bahwa takdir memberi kesempatan.

Jangan buat ego kami yang menjadi lubang jurang saling bersebrangan. Paling tidak beri kami pelajaran soal itu. Dan paling tidak beri kami satu kali kesempatan saja. Dan paling tidak jangan beri ego kami memanjang mengulur waktu, Karna kami pasti akan tersiksa sekali kelak. Dan Karena Kesenjangan yang paling sulit diselesaikan adalah pada orang yang sangat menjaga hubungan tersebut tetap se utuh mungkin.

                                                           
                                                                 Beri kami pijakan.



Jakarta. 07 Agustus 2014.
Rumah Gua, 01.44 AM

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar